سنقرئك فلا تنسى
Dibaca 7x sesudah shalat
Letakkan tangan didada sebelah kiri
dan sambil membacanya didalam hati
kandangan blog
Senin, 18 Februari 2013
Sabtu, 16 Februari 2013
syekh m.nafis albanjari
SYEIKH MUHAMMAD NAFIS AL- BANJARI Muhammad Nafis bin Idris bin
Husein, demikianlah nama
lengkapnya, ia lahir sekitar
tahun 1148 H.11735 M., di kota
Martapura, sekarang ibukota
Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, dari keluarga
bangsawan atau kesultanan
Banjar yang garis silsilah dan
keturunannya bersambung
hingga Sultan Suriansyah
(1527-1545 M.) Raja Banjar pertama yang memeluk agama
Islam, yang dahulu bergelar
Pangeran Samudera. Silsilah lengkapnya adalah:
Muhammad Nafis bin Idris bin
Husein bin Ratu Kasuma Yoeda
bin Pangeran Kesuma Negara
bin Pangeran Dipati bin Sultan
Tahlillah bin Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah bin
Sultan MustaâEin Billah bin
Sultan Hidayatullah bin Sultan
Rahmatullah bin Sultan
Suriansyah. Muhammad Nafis hidup pada
periode yang sama dengan
Syeikh Muhammad Arsyad al-
Banjari. Dan diperkirakan
wafat sekitar tahun 1812 M.
dan dimakamkan di Mahar Kuning, Desa Binturu, sekarang
menjadi bagian desa dari
Kecamatan Kelua, Kabupaten
Tabalong. Dan sekarang makam
tersebut menjadi salah satu
objek wisata relijius di Kabupaten Tabalong,
Kalimantan Selatan. Tidak ada catatan tahun yang
pasti kapan ia pergi berangkat
menuntut itmu ke tanah suci
Makkah. Diperkirakan ia pergi
menimba ilmu pengetahuan ke
tanah suci Makkah sejak usia dini dan sangat muda, sesudah
mendapat pendidikan dasar-
dasar agama Islam di kota
kelahirannya, Martapura. Di
kemudian had, didapati ia
belajar dan menuntut ilmu agama Islam di kota Makkah,
sebagaimana ia tuliskan dalam
catatan pendahuluan pada
karya tulisnya âEśad-Durrun
NafisâEť (âE¦.. dia yang menulis
risalah iniâE¦ yaitu, Muhammad Nafis bin Idris bin al-Husein,
yang dilahirkan di Banjar dan
hidup di Makkah). Juga tidak terdapat informasi
dan catatan tentang apakah ia
di Makkah dan Madinah
belajar bersama Abdussamad
al-Falimbani, Muhammad
Arsyad al-Banjari dan rekan- rekan mereka yang lainnya,
tetapi besar kemungkinan masa
belajar Muhammad Nafis di
Haramain bersamaan dengan
masa belajar Abdussamad al-
Falimbani,Muhammad Arsyad al-Banjari dan rekan-rekan
mereka yang lainnya. Kesimpulannya, dengan melihat
daftar nama-nama guru
Muhammad Nafis al-Banjari
besar kemungkinan mereka
belajar bersama pada satu
masa atau masa yang Iain. Sebagaimana kebiasaan para
ulama Jawi (Indonesia/Asia
Tenggara) abad ke 17 dan ke
18, ia belajar dan menuntut ilmu
pengetahuan keislaman kepada
para ulama yang terkenal di dunia Islam pada masa itu, baik
yang menetap maupun yang
sewaktu-waktu berziarah dan
mengajar di Haramain, Makkah
dan Madinah, dalam berbagai
bidang ilmu pengetahuan Islam, terutama tafsir, hadits, fiqih,
tauhid dan tasauf. Di antara guru-gurunya yang
tercatat dalam bidang ilmu
tasauf di Haramain adalah: 1. Syeikh Abdullah bin Hijazi
asy-Syarqawi al-Azhari. 2. Syeikh Shiddiq bin Umar
Khan. 3. Syeikh Muhammad bin Abdul
Karim as-Samani al-
Madani. 4. Syeikh Abdur Rahman bin
Abdul Aziz al-Maghribi. 5. Syeikh Muhammad bin
Ahmad al-Jawhari. 6. Syeikh Yusuf Abu Dzarrah
al-Mishri. 7. Syeikh Abdullah bin Syeikh
Ibrahim al-Mirghani 8. Syeikh Abu Fauzi Ibrahim bin
Muhammad ar-RaâEis az-
Zamzami al-Makki. Karena kegigihannya dalam
mempelajari ilmu tasauf
Muhammad Nafis akhirnya
berhasil mencapai gelar
âEśSyeikh al-MursyidâEť, yaitu
seorang yang memahami, mengerti, mengamalkan serta
mempunyai ilmu yang cukup
tentang tasauf, gelar yang
menunjukkan bahwa ia mampu
dan diperkenankan serta diberi
izin untuk mengajar tasauf dan tarekatnya kepada orang lain. Karena seringnya melakukan
dakwah ke pedalaman ia hanya
sempat mengarang sedikit
kitab. Yang sampai sekarang
yang terlacak hanya dua buah
kitab saja yaitu: 1. Kanzus SaâEadah. Yaitu kitab
yang berisi tentang istilah-
istilah ilmu tasauf. Kitab ini
belum pernah dicetak masih
berupa manuskrip. 2. Ad-Durrun Nafis. Yaitu kitab
yang berisi tentang
pengesaan perbuatan,
nama, sifat dan zat Tuhan. Kitab ad-Durrun Nafis yang
pada mulanya dikarang hanya
untuk memenuhi permintaan
kawan-kawan, namun pada
akhirnya banyak diminati dan
tersebar luas ke pelosok Nusantara bahkan sampai
negara-negara di Timur Tengah
dan Asia Tenggara. Menurut seorang yang kasyaf
mengatakan bahwa kitab ad-
Durrun Nafis berisi bagian dari
ilmu para wali Allah,
barangsiapa mempelajarinya,
maka ia akan dicatat oleh para wali sebagai bagian dari
mereka. Ini merupakan salah
satu karamah dari penyusunnya
yaitu Syeikh Muhammad Nafis. Syeikh Muhammad Nafis al-
Banjari, seperti kebanyakan
ulama Melayu-Indonesia
lainnya, mengikut Madzhab
SyafiâEi pada bidang fikih dan
AsyâEariyyah pada ilmu tauhid ia juga menggabungkan diri
dengan Tarekat Qadiriyyah,
Syattariyyah, Samaniyyah,
Naqsyabandyyah dan
Khalwatiyyah. Syeikh Muhammad Nafis al-
Banjari seperti ulama-ulama
sufi lainnya, ia juga mendapat
tantangan dari orang-orang
yang tidak sependapat dengan
ajaran tasaufnya. Namun tidak sehebat ta ntangan terhadap
Syeikh Hamzah al-Fansuri dan
Syeikh Syamsuddin as-
Sumatrani. Dalam
perkembangan mutakhir
golongan sufi dunia Melayu cukup sering dibicarakan. Di satu pihak kitab itu dilarang
atau diharamkan
menggunakannya, di pihak lain
ternyata lebih banyak surau
ataupun masjid serta di
rumah-rumah orang yang mengajarkannya. Bahkan KH.
Haderanie HN., seorang ulama
di Surabaya berusaha menyalin
ke dalam huruf latin kitab
tersebut, yang diberi kata
sambutan oleh seorang ulama dan tokoh atau ahli politik Islam
Indonesia, KH. Dr. Idham
Chalid. ad-Durr an-Nafis yang
disalin ke dalam huruf latin itu
diberi judul Ilmu Ketuhanan
Permata Yang Indah (ad- Durrun Nafis). Juga kitab ad-
Durrun Nafis telah disalin
secara lengkap ke dalam huruf
latin dan diberi catatan kaki
serta diberi indeks untuk
kemudahan menelaahnya oleh Tim Sahabat Kandangan. Kitab
ad-Durrun Nafis latin tersebut
menjadi bagian dari buku
Manakib Syeikh Muhammad
Nafis al-Banjari.
Husein, demikianlah nama
lengkapnya, ia lahir sekitar
tahun 1148 H.11735 M., di kota
Martapura, sekarang ibukota
Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, dari keluarga
bangsawan atau kesultanan
Banjar yang garis silsilah dan
keturunannya bersambung
hingga Sultan Suriansyah
(1527-1545 M.) Raja Banjar pertama yang memeluk agama
Islam, yang dahulu bergelar
Pangeran Samudera. Silsilah lengkapnya adalah:
Muhammad Nafis bin Idris bin
Husein bin Ratu Kasuma Yoeda
bin Pangeran Kesuma Negara
bin Pangeran Dipati bin Sultan
Tahlillah bin Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah bin
Sultan MustaâEin Billah bin
Sultan Hidayatullah bin Sultan
Rahmatullah bin Sultan
Suriansyah. Muhammad Nafis hidup pada
periode yang sama dengan
Syeikh Muhammad Arsyad al-
Banjari. Dan diperkirakan
wafat sekitar tahun 1812 M.
dan dimakamkan di Mahar Kuning, Desa Binturu, sekarang
menjadi bagian desa dari
Kecamatan Kelua, Kabupaten
Tabalong. Dan sekarang makam
tersebut menjadi salah satu
objek wisata relijius di Kabupaten Tabalong,
Kalimantan Selatan. Tidak ada catatan tahun yang
pasti kapan ia pergi berangkat
menuntut itmu ke tanah suci
Makkah. Diperkirakan ia pergi
menimba ilmu pengetahuan ke
tanah suci Makkah sejak usia dini dan sangat muda, sesudah
mendapat pendidikan dasar-
dasar agama Islam di kota
kelahirannya, Martapura. Di
kemudian had, didapati ia
belajar dan menuntut ilmu agama Islam di kota Makkah,
sebagaimana ia tuliskan dalam
catatan pendahuluan pada
karya tulisnya âEśad-Durrun
NafisâEť (âE¦.. dia yang menulis
risalah iniâE¦ yaitu, Muhammad Nafis bin Idris bin al-Husein,
yang dilahirkan di Banjar dan
hidup di Makkah). Juga tidak terdapat informasi
dan catatan tentang apakah ia
di Makkah dan Madinah
belajar bersama Abdussamad
al-Falimbani, Muhammad
Arsyad al-Banjari dan rekan- rekan mereka yang lainnya,
tetapi besar kemungkinan masa
belajar Muhammad Nafis di
Haramain bersamaan dengan
masa belajar Abdussamad al-
Falimbani,Muhammad Arsyad al-Banjari dan rekan-rekan
mereka yang lainnya. Kesimpulannya, dengan melihat
daftar nama-nama guru
Muhammad Nafis al-Banjari
besar kemungkinan mereka
belajar bersama pada satu
masa atau masa yang Iain. Sebagaimana kebiasaan para
ulama Jawi (Indonesia/Asia
Tenggara) abad ke 17 dan ke
18, ia belajar dan menuntut ilmu
pengetahuan keislaman kepada
para ulama yang terkenal di dunia Islam pada masa itu, baik
yang menetap maupun yang
sewaktu-waktu berziarah dan
mengajar di Haramain, Makkah
dan Madinah, dalam berbagai
bidang ilmu pengetahuan Islam, terutama tafsir, hadits, fiqih,
tauhid dan tasauf. Di antara guru-gurunya yang
tercatat dalam bidang ilmu
tasauf di Haramain adalah: 1. Syeikh Abdullah bin Hijazi
asy-Syarqawi al-Azhari. 2. Syeikh Shiddiq bin Umar
Khan. 3. Syeikh Muhammad bin Abdul
Karim as-Samani al-
Madani. 4. Syeikh Abdur Rahman bin
Abdul Aziz al-Maghribi. 5. Syeikh Muhammad bin
Ahmad al-Jawhari. 6. Syeikh Yusuf Abu Dzarrah
al-Mishri. 7. Syeikh Abdullah bin Syeikh
Ibrahim al-Mirghani 8. Syeikh Abu Fauzi Ibrahim bin
Muhammad ar-RaâEis az-
Zamzami al-Makki. Karena kegigihannya dalam
mempelajari ilmu tasauf
Muhammad Nafis akhirnya
berhasil mencapai gelar
âEśSyeikh al-MursyidâEť, yaitu
seorang yang memahami, mengerti, mengamalkan serta
mempunyai ilmu yang cukup
tentang tasauf, gelar yang
menunjukkan bahwa ia mampu
dan diperkenankan serta diberi
izin untuk mengajar tasauf dan tarekatnya kepada orang lain. Karena seringnya melakukan
dakwah ke pedalaman ia hanya
sempat mengarang sedikit
kitab. Yang sampai sekarang
yang terlacak hanya dua buah
kitab saja yaitu: 1. Kanzus SaâEadah. Yaitu kitab
yang berisi tentang istilah-
istilah ilmu tasauf. Kitab ini
belum pernah dicetak masih
berupa manuskrip. 2. Ad-Durrun Nafis. Yaitu kitab
yang berisi tentang
pengesaan perbuatan,
nama, sifat dan zat Tuhan. Kitab ad-Durrun Nafis yang
pada mulanya dikarang hanya
untuk memenuhi permintaan
kawan-kawan, namun pada
akhirnya banyak diminati dan
tersebar luas ke pelosok Nusantara bahkan sampai
negara-negara di Timur Tengah
dan Asia Tenggara. Menurut seorang yang kasyaf
mengatakan bahwa kitab ad-
Durrun Nafis berisi bagian dari
ilmu para wali Allah,
barangsiapa mempelajarinya,
maka ia akan dicatat oleh para wali sebagai bagian dari
mereka. Ini merupakan salah
satu karamah dari penyusunnya
yaitu Syeikh Muhammad Nafis. Syeikh Muhammad Nafis al-
Banjari, seperti kebanyakan
ulama Melayu-Indonesia
lainnya, mengikut Madzhab
SyafiâEi pada bidang fikih dan
AsyâEariyyah pada ilmu tauhid ia juga menggabungkan diri
dengan Tarekat Qadiriyyah,
Syattariyyah, Samaniyyah,
Naqsyabandyyah dan
Khalwatiyyah. Syeikh Muhammad Nafis al-
Banjari seperti ulama-ulama
sufi lainnya, ia juga mendapat
tantangan dari orang-orang
yang tidak sependapat dengan
ajaran tasaufnya. Namun tidak sehebat ta ntangan terhadap
Syeikh Hamzah al-Fansuri dan
Syeikh Syamsuddin as-
Sumatrani. Dalam
perkembangan mutakhir
golongan sufi dunia Melayu cukup sering dibicarakan. Di satu pihak kitab itu dilarang
atau diharamkan
menggunakannya, di pihak lain
ternyata lebih banyak surau
ataupun masjid serta di
rumah-rumah orang yang mengajarkannya. Bahkan KH.
Haderanie HN., seorang ulama
di Surabaya berusaha menyalin
ke dalam huruf latin kitab
tersebut, yang diberi kata
sambutan oleh seorang ulama dan tokoh atau ahli politik Islam
Indonesia, KH. Dr. Idham
Chalid. ad-Durr an-Nafis yang
disalin ke dalam huruf latin itu
diberi judul Ilmu Ketuhanan
Permata Yang Indah (ad- Durrun Nafis). Juga kitab ad-
Durrun Nafis telah disalin
secara lengkap ke dalam huruf
latin dan diberi catatan kaki
serta diberi indeks untuk
kemudahan menelaahnya oleh Tim Sahabat Kandangan. Kitab
ad-Durrun Nafis latin tersebut
menjadi bagian dari buku
Manakib Syeikh Muhammad
Nafis al-Banjari.
Jumat, 15 Februari 2013
pengajia abah guru adab_membaca_al-quran
assalamualaikum wr wb
Baiklah tak perlu panjang lebar langsung download saja
www.4shared.com/mp3/rv7zOmky/adab_membaca_al-quran.html
Baiklah tak perlu panjang lebar langsung download saja
www.4shared.com/mp3/rv7zOmky/adab_membaca_al-quran.html
Rabu, 13 Februari 2013
Langganan:
Postingan (Atom)